Dia menuturkan, bauksit, kelapa sawit, karet dan kelapa merupakan sumber daya alam yang telah memberikan nilai lebih bagi perekonomian nasional, khususnya untuk pendapatan daerah. Kata Sutarmidji, khusus di produksi bauksit, setidaknya Kalbar bisa mengekspor hingga 2 juta ton ke luar negeri.

"Masalahnya regulasi antara pusat dan daerah kadang tidak singkron. Misal harga masuk mobil kita ke sana (malaysia) bisa 500 ribu per hari. Setiap hari itu mobil malaysia yang ke Indonesia hanya 2, tapi kita 10 kali, jadi lebih banyak keluar (biaya)," kata Sutarmidji.

Untuk itu, Sutarmidji mengaku pemerintahan yang dipimpinnya harus menyiapkan plan yang tepat dan terukur. Di kabupaten Pontianak misalnya. Daerah ini dianggap penting sebagai pusat perekonomian karena berdiri pelabuhan serta sentra-sentra ekonomi rakyat yang bersumber dari desa.

"Maka kita bicara hulu ke hulir, harus ada peningkatan infrastruktur. Untuk mengolah bauksit itu listrik berbiaya mahal dibanding industri di malaysia. Sama dengan sawit, perkebunan sawit sulit berkembang dengan malaysia," ujarnya.
Selain hasil produksi daerah berupa bauksit maupun kelapa sawit, sektor kehutanan dan pertanian juga menjadi pendukung ekonomi masyarakat Kalbar. Sutarmidji mengaku mendukung, program sertifikat tanah yang diberikan kepada warga dari pemerintah pusat.

Program ini di Kalbar disebut dengan istilah Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA). Program ini selain memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, juga memberikan kesempatan kepada warga untuk mengolah lahan yang tepat sasaran dan produktif sebagai implementasi program desa mandiri. "(Ada) Rang I Regional Kalimantan Barat Desa Mandiri," tukasnya.

 Sumber : (pur) https://nasional.sindonews.com/read/1449222/15/selain-desa-mandiri-gubernur-kalbar-jadikan-tora-untuk-kemandirian-rakyat-1571212238